Transformasi Pendidikan Indonesia: Jadikan Bahasa Sebagai Alat Berpikir
Jakarta – Kita sering menemukan seseorang yang mampu melafalkan Ayat Al-Quran dengan sangat fasih, tetapi tidak mampu menjelaskan makna setiap kata yang diucapkannya. KIta juga melihat anakĀ muda yang hafal lagu Barat dari awal hingga akhir.
Baca Juga: Ketua Fraksi Golkar MPR Tekankan Pendidikan Jadi Kunci Kemajuan Bangsa
Namun, tidak mengerti arti satu kalimat pun di dalamnya. Fenomena seperti ini tampak sederhana, tetapi bagi otak perbedaannya sangat fundamental.
Dalam neurosains, bahasa tidak dipahami sebagai bunyi belaka. Bahasa adalah alat berfikir. Saat seseorang mengetahui arti kata, hubungan antar gagasan, dan konteksnya, otak mengolah bahasa sebagai mesin bermalar.
Wembricker area bekerja memahami makna, Broca’ssebab akibat serta pengambilan keputusan.
Bahasa yang dipahami berubah menjadi instrumen intelektual. Bahasa menghasilkan kemampuan menjelaskan ulang, menarik kesimpulan, berargumentasi dan melahirkan ide baru.
Di antara dua kutub ini terdapat sebuah jembatan yang sering dianggap tujuan akhir padahal msaih jauh dan cukup lama yaitu grammar. Dalam tradisi pembelajaran bahasa, terutama bahasa Arab dan Bahasa Inggris di Indonesia.
Grammar sering menjadi pusat perhatian, Secara neurogeustik, mempelajari tata bahasa memang penting karena ia mengaktifkan sistem pola dan struktur dalam otak.
Apa Itu Grammar?
Inilah akar persoalan besar dalam pendidikan bahasa di Indonesia. Untuk bahasa Indonesia, kita sudah mencapai tingkat terbaik, kita tidak sekadar tahu bunyinya.
Tetapi berpiir dengan bahasa Indonesia. Kita berdebat, menulis, meneliti, dan menganalisis dalam bahasa indonesia tetapi ketika masuk ke bahasa asing terutama inggris dan arab, kita kembali ke pola lama. Bahasa diajarkan sebagai aturan. Bukan sebagai makna.
Anak-anak menghadapi tenses, mengisi lembar iemguler verbis,tetapi tidak membaca buku ilmu pengetahuan dunia. Di pesantren, santri sangat piawai mengurangi rahwa dan sharaf, tetapi tidak mampu menggali pesan moral.
Akiibatnya sangat besar. Indonesia kesulitan mengakses ilmu global karena gerbangnya adalah bahasa indonesia kesulitan menggali kedalaman makka Al-Quran karena bahasa arabnya tidak tidak hidup sebagai alat pemikiran.
Kita melahirkan generasi yang cerdas menghafal tetapi tidak kuat bernalar, rajin mengulang tetapi tidak mampu mencipta, baik dalam intensi tetapi lemah dalam inovasi.
Jika ingin menjadi bangsa penemu dan bukan sekedar bangsa pemakai. revolusi pembelajaran bahasa adalah syarat utama.
Bahasa Arab perlu diajarkan sebagai alat memakna wahyu dan tradisi intelektual islam. Ketika bahasa menjadi alat berpikir, Agar itu terjadi